Konsep Tuhan perspektif Maulana Makhdum Ibrahim: studi kitab bonang dan suluk wujil
Jauharotina Alfadhilah
Abstract
Pandangan manusia mengenai Tuhan kerap kali memacu mereka untuk dapat merefleksikan apa yang mereka imani dengan sesekali bertanya mengenai apa gerangan paham Tuhan yang dapat menggerakkan kehidupan religiusnya. Seiring dengan adanya fakta bahwa setiap orang hanya dapat merefleksikan imannya sendiri karena apa yang mereka imani merupakan aspek-aspek dari pengalaman religius, menjadikan setiap orang memiliki deskripsi masing-masing dalam mengkonsep dan merepresentasikan Tuhan, meski mereka memeluk satu agama yang sama. Dalam hal ini penulis akan melihat dari sisi Maulana Makhdum Ibrahim. Untuk mengetahui hal tersebut, penulis langsung merujuk kepada kitab Maulana Makhdum Ibrahim yang berisikan pemikirannya perihal pengetahuan tentang Islam dan Tasawuf, yaitu Primbon Bonang dan Suluk Wujil. Untuk dapat mengetahui bagaimana konsep Tuhan perspektif Sunan Bonang dari kedua naskah itu, penulis menggunakan metode hermeneutik teori. Penulis menyimpulkan bahwa Sunan Bonang dalam pemikiran teologisnya banyak terpengaruh oleh Al-Ghazali, begitu pula dalam pengkonsepan Tuhan. Tuhan bagi Sunan Bonang adalah Dia Yang Esa, yang memiliki sifat kekal, sempurna dan abadi. Sifat-sifat Tuhan sama sekali bukanlah Dzat-Nya. Sifat-sifat tersebut berada di luar Dzat-Nya, namun tidak lain dari Dzat-Nya. Sifat Tuhan ada dan Agung dalam keberadaan-Nya. Mengenai eksistensi Tuhan, Sunan Bonang beranggapan bahwa Tuhan adalah transenden, meski terkadang ia mengamini imanensi Tuhan dengan memberikan batasan-batasan sehingga menjauhkannya dari kata panteisme.