IKHTIAR DALAM PEMIKIRAN KALAM HAMKA: Analisa Ikhtiar sebagai Prinsip Pembangunan Harkat Hidup Manusia
Khumaidi Khumaidi
Аннотация
Pemikiran kalam di nusantara nota bene berprinsip pada faham\nAsy’ariyah. Di faham Asy’ariyah, persoalan kebebasan manusia dalam\nberkehendak (free will), yang berhubungan dengan ikhtiar, dan kehendak mutlak\nTuhan (predestination), yang disebut juga dengan takdir, seakan memiliki\ndimensi wewenang yang tidak selaras. Dimana ikhtiar tidak memiliki potensi\nyang siginifikan karena semua kehendak Tuhan. Ikhtiar manusia seolah memiliki\npotensi abu-abu. Hamka datang dengan paradigma pemikiran kalam yang agak\nberbeda, yakni membawa perbedaan pemikiran yang moderat. Sebagai ulama\nnusantara, Hamka menyuguhkan pandangan tentang ikhtiar yang memiliki\npotensi dapat merubah kehidupan manusia menjadi berharkat, baik di dunia\nmaupun di akhirat, dengan tetap berpegang pada kekuatan takdir.\nPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemikiran Hamka tentang\nikhtiar secara jelas. Diharapkan dengan terungkapnya pemikiran tentang ikhtiar\nHamka itu dapat memunculkan karya ulama nusantara yang dapat dikonsumsi\noleh masyarakat dan bisa sebagai kontribusi ilmiah dalam khazanah keilmuan\nIslam. Dalam melakukan penelitian ini penulis menggunakan kajian pustaka\ndengan pendekatan hermeneutik sebagai usaha interprestasi pokok pikiran atau\nide tokoh, tanpa mengurangi keotentikan makna teks. Sebagai proses telaah\ndigunakan pendekatan idealisasi untuk memadukan teks dengan realitas.\nTesis ini menyimpulkan bahwa ikhtiar menurut Hamka adalah berusaha\ndan bekerja mencapai kemanusiaan dengan sepenuh daya upaya yang dilakukan\nsesuai tuntunan syariat dengan niat dan dilakukan dengan ikhlas. Namun ruang\ngerak ikhtiar manusia terbatasi oleh aturan hukum Tuhan yaitu takdir. Tetapi,\nIkhtiar dan takdir itu seiring-sejalan. Seberapa besar ikhtiar manusia, disitu akan\nmendapatkan takdir sesuai yang diusahakan. Dengan demikian, ikhtiar dalam\npemikiran kalam Hamka dapat menjadi prinsip pembangunan hidup manusia\nyang berharkat, baik manusia sebagai makhluk Tuhan, sebagai makhluk individu,\nmaupun sebagai makhluk sosial