Kaliné Buthȇk Wȇtȇngé Warȇg: Studi tentang Pandangan Hidup dan Perilaku Ekonomi Santri Pelaku Usaha Batik di Pekalongan
Tri Astutik Haryati
Xülasə
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keinginan untuk memotret pertanyaan tentang kompleksitas hubungan antara kehidupan sehari-hari dengan kerangka budaya yang memayungi perekonomian masyarakat ditengahi oleh ajaran Islam. Fokus kajian pada apa yang sedang terjadi—dalam kasus kali buthȇk, wȇtȇng warȇg—dan cenderung terus terjadi serta berusaha menemukan pola mengapa hal itu terjadi bahkan menjadi tradisi. Di dalamnya memunculkan permasalahan tentang orientasi nilai hidup apa yang diidealkan oleh santri pelaku usaha batik dan bagaimana nilai-nilai ideal itu diaktualisasikan dalam kegiatan ekonomi mereka? Sebagai studi kultural, penelitian ini menempatkan masyarakat pada pusat dunia sosial dengan tujuan untuk memahami pandangan hidup mereka, bagaimana mereka mengenal dunianya dan memberi pengertian terhadap pengalaman-pengalamannya berdasarkan teori Kluckhohn. Sedangkan untuk memahami perilaku mereka, menggunakan pendekatan fenomenologi Alfred Schütz dengan basis teoritis The Social Construction of Reality dari Peter L Berger dan Thomas Luckmann. Sumber data melalui purposive sampling dengan unit analisis produsen, pembabar, dan buruh. Metode pengumpulan data melalui observasi dan wawancara mendalam, dan analisa dengan metode deskriptif analisis kritis. \nPelaku usaha batik Pekalongan sebagai komunitas muslim santri memiliki orientasi nilai hidup ideal yakni kebaikan hidup dunia dan akhirat secara seimbang. Keseimbangan itu mengantarkan pada keadaan slamet ndunya akhirat. Gambaran keselamatan dunia tampak dalam hidup mapan yang berimplikasi sosio-religius sebagai sarana mencapai keselamatan akhirat dan menjadi indikasi kesuksesan. Kesuksesan bagi pengusaha batik terbagi tiga: kesuksesan lahiriah, batiniah, dan lahir-batin sekaligus. Pencapaian kesuksesan dalam jangka panjang tidak terlepas dari beberapa faktor: mentalitas pengusaha, manajeman ilmiah, pemahaman agama, budaya, dan lain-lain. Pemahaman agama berdialektika dengan budaya Jawa menimbulkan etos kerja tinggi karena kualitas kemanusiaan dalam budaya Jawa salah satunya ditentukan oleh kehidupan mapan. Untuk mempertahankannya mereka menggunakan berbagai cara seperti hutang mori, nglisitke giro, mbanting harga, ngemplang, dan lain-lain. Pada awalnya, cara-cara itu untuk menghindari kerugian. Namun mereka tidak menyadari bahaya lebih besar dan berkelanjutan yang akan dialami hingga berakhir pada kekalahan. Kondisi ini menyebabkan mereka memutar haluan melalui jalan-jalan spiritual. Dengan demikian, fungsi agama dalam perilaku ekonomi masyarakat santri Pekalongan terbagi menjadi empat yakni sebagai lensa ideologis, mekanisme kontrol dalam perilaku ekonomi, sumber motivasi kerja, dan sumber vitalitas moral melalui peran solutif agama sebagai sarana efektif untuk menyelesaikan berbagai permasalahan perekonomian.\n\nABSTRACT: \n\nThe background of this research is to picture a question of complexity occurring between daily life and cultural framework that surround practices